Home / Kenaikan Pangkat

Kamis, 25 Agustus 2022 - 12:35 WIB

“Gerakan Sekolah Menyenangkan Siswa di Yogyakarta

Gerakan Sekolah Menyenangkan Bangun Kembali Spirit Taman Siswa di Yogyakarta

 

Yogyakarta sebagai kota pelajar disematkan karena sejarah berdirinya organisasi Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara . Gerakan Sekolah Menyenangkan ( GSM ) pun mencoba menghidupkan kembali spirit Taman Siswa melalui sejumlah kegiatan. Warisan nilai-nilai Ki Hajar Dewantara untuk menjadikan generasi yang mampu tumbuh menjadi dirinya sendiri, memiliki kemandirian berpikir, dan jiwa yang merdeka agaknya kurang dimaknai dengan sungguh-sungguh oleh pendidik masa kini. Pendidikan di Yogyakarta memiliki indikator penilaian 3P yaitu Pelayanan, Penampilan, dan Prestasi. Akan tetapi, indikator tersebut tidak imbang dengan realitas yang terjadi. “Problematika pendidikan di kota Yogya seperti demotivasi belajar siswa, kasus perundungan, dan tidak adanya ruang untuk mengeksplor lebih jauh keunikan siswa memunculkan pertanyaan apakah spirit Taman Siswa bisa dihidupkan kembali?,” ujar Muhammad N. Rizal sebagai pendiri GSM, melalui siaran pers, Selasa (23/8/2022).

Gerakan Sekolah Menyenangkan Bangun Kembali Spirit Taman Siswa di Yogyakarta

 

Spirit tersebut dapat dibangun kembali dengan adanya Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) dengan ideologi kemanusiaannya. “Spirit Taman Siswa bisa berdiri kalau semua SD di Yogya mau mengubah kultur pendidikan menjadi lebih menyenangkan dan memanusiakan. Birokrasi yang lebih terbuka dan adaptif juga dibutuhkan untuk konsep pendidikan masa depan GSM,” lanjut Rizal. Keberhasilan GSM dibuktikan dengan adanya pernyataan dari Sarmidi selaku Koordinator Pengawas kota Yogyakarta, dan Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) Yogyakarta, yaitu GSM mendidik berdasarkan keanekaragaman anak-anak dan penanaman budi pekerti. “GSM menggunakan pendekatan sangat tepat dan bagus dengan pembelajaran untuk memanusiakan manusia. Maka bangkitlah negeri bersama GSM,” tutup Sarmidi. “Sekolah perlu mendapatkan kesempatan yang setara dan diperlakukan sama, baik sekolah besar, favorit, atau tidak, Tidak dibeda-bedakan oleh takaran sumber daya infrastruktur, guru, dan muridnya. Sehingga, tidak adanya kastanisasi di komunitas GSM itu sendiri,” jelas Rizal. Ada tiga hal yang dibangun di dalam komunitas GSM. Pertama, adanya ruang kemandirian bagi setiap guru dan kepala sekolah untuk membentuk jiwa-jiwa yang merdeka dalam membuat kurikulum sekolahnya sendiri, dan perencanaan pembelajaran sendiri yang disesuaikan kebutuhan serta keunikan muridnya. Kedua, adanya peningkatan kapasitas diri setiap guru dalam hal profesionalisme, kompetensi, karakter, dan mindset. Ketiga, aktivitas bertukar praktik baik para guru dalam mengajar agar tercipta kualitas mengajar sebaik mungkin.

Baca juga:   Tabel Angka Kredit Guru PNS dari Sub-Unsurnya

Gerakan Sekolah Menyenangkan ( GSM ) memiliki ideologi Sekolah 0.4 untuk membangunkan spirit sekolah dengan kembali mendidik manusia agar siswa menemukan versi terbaiknya. Ada empat hal yang menjadi penanda Sekolah 0.4. Pertama, sekolah berfokus membangun kesadaran diri siswa dan guru melalui proses dialog, refleksi, dan introspeksi untuk mengenali diri, mengelola diri, sekaligus menemukan tujuan moral hidup dalam konteks sosial. Kedua, membangun budaya ekosistem sekolah positif yang memberi rasa aman dan membuat siswa tertarik serta antusias dalam belajar secara aktif. Ketiga, membangun penalaran kritis dan kreatif agar siswa mampu mengonstruksi pengetahuannya sendiri melalui pengalaman nyata dengan menemukan persoalan, sekaligus mencari solusi secara mandiri. Keempat, pendidikan yang investigatif terhadap kehidupan nyata dan sosial sehingga siswa tidak hanya pintar dan siap menjadi tenaga kerja terampil, tetapi juga membangun kecerdasan kewarganegaraan agar terlibat aktif dalam perubahan global yang cepat.

Baca juga:   Penerapan Nilai-Nilai Karakter PKN

Untuk itu, Sekolah 0.4 menyasar sekolah-sekolah pinggiran agar perubahan dapat dimulai dari sana sebagai bentuk pemihakan GSM pada kaum pinggiran. “Sekolah 0.4 sebagai sekolah masa depan artinya GSM mengajak untuk menyiapkan manusia menjadi pengendali utama atas ambisi kemajuan teknologi saat ini, bukan justru dikendalikan oleh algoritma digital,” ucap Rizal. GSM memiliki kultur bahwa sekolah sebagai fondasi rumah, dan kurikulum sebagai ruangan rumah. Maka ruangan yang berganti akan tetap aman jika fondasinya kokoh. Fondasi dilakukan dengan kultur sekolah yang memanusiakan dan menyenangkan. Rizal menambahkan bahwa “GSM akan terus menyambut hal-hal inisiatif yang dilakukan, sehingga kurikulum apa pun termasuk kurikulum saat ini akan terlaksana dengan baik dan benar karena dilakukan oleh guru-guru yang jiwanya merdeka seperti semangat hari kemerdekaan 17 Agustus 1945.” Workshop pelatihan mindset perlu didukung oleh seluruh stakeholder yang berperan untuk ditiru agar menjalar ke kota-kota lain di seluruh Indonesia, sehingga bangsa ini benar-benar merdeka dan mampu menyiapkan sistem pendidikannya untuk beradaptasi dengan masa depan. “Oleh karena itu, judul pelatihan perubahan mindset GSM ialah Sekolah 0.4 sebagai sekolah masa depan sekaligus penanda lahirnya kembali spirit Taman Siswa di Yogyakarta,” tutupnya.

 

Penulis : Ansisko Simbolon

Share :

Baca Juga

Kenaikan Pangkat

Guru Besar UPI Paparkan 3 Komponen Penting untuk Implementasikan Pendidikan Manajemen

Guru Honorer

Kenali bentuk publikasi ilmiah dan angka kreditnya

Kenaikan Pangkat

GURU CERDAS DI ERA GENERASI MILENIAL
cara membuat promes

Kenaikan Pangkat

Beasiswa Guru PAUD dan SD 2022 Masih Buka, Ini Jadwalnya

Kenaikan Pangkat

8 Data Wajib Dipersiapkan Saat Akan Mendaftar PPPK Tahun 2022

Kenaikan Pangkat

Laptop Sering Nge Lag? Simak Tips Berikut, No More Laptop Nge Lag!

Kenaikan Pangkat

68 Daerah ini Telah Cair Tunjangan Sertifikasi Guru (TPG) Triwulan 1 Tahun 2022, Cek Daerahmu

Kenaikan Pangkat

Pendidikan Karakter Anak Usia Dini