Home / Kesiswaan / Kurikulum

Rabu, 10 Agustus 2022 - 15:56 WIB

Materi Pendidikan Anti Korupsi

Lembaga pendidikan merupakan tumpuan pendidikan karakter jangka panjang bagi generasi muda Indonesia. Untuk itu, sangat penting untuk menanamkan pendidikan anti korupsi secara berkesinambungan.

Secara mental, sebagaimana dikemukakan oleh Koentjaraningrat sebagai antropolog Indonesia, bangsa Indonesia memiliki karakter khusus yang menjadi cikal bakal terjadinya tindakan korupsi. Di antara sikap tersebut adalah meremehkan kualitas, mencintai budaya instan, tidak yakin, tidak disiplin, dan sering melalaikan tanggung jawab.

Sikap negatif seperti ini perlu dijauhkan dari pola pikir orang Indonesia karena pendidikan mereka di sekolah dan kampus sebagai tempat pendidikan karakter yang baik. Di satu sisi, bangsa kita memiliki kelemahan perilaku yang diwarisi dari kolonialisme. Memotong mental, tidak menghargai waktu, meremehkan kualitas, tidak yakin dan masih banyak lagi.

Sementara itu, di sisi lain, dunia pendidikan yang seharusnya memperkuat budaya antikorupsi, semakin terasa tidak konsisten dalam menjalankan fungsinya. Proses pendidikan lebih mementingkan penguasaan pengetahuan itu sendiri daripada membiasakan diri dengan perilaku yang baik.

Meskipun sekolah melaksanakan berbagai kegiatan serupa, hal tersebut dilakukan seolah-olah terpisah dari proses pembelajaran secara utuh. Oleh karena itu, sudah saatnya mengembalikan sekolah sebagai lokomotif untuk memperkuat budaya antikorupsi jangka panjang. Kita mulai dengan melakukan pendidikan anti korupsi yang dipimpin oleh satuan pendidikan.

Pendidikan Anti Korupsi

Pendidikan antikorupsi merupakan salah satu bentuk pencegahan dan pemberantasan korupsi yang dilaksanakan melalui pendidikan, baik formal maupun nonformal. Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (2018), pendidikan anti korupsi adalah proses yang bertujuan untuk memperkuat sikap anti korupsi pada mahasiswa, baik sarjana maupun mahasiswa.

Fungsi Pendidikan Anti Korupsi

Pendidikan anti korupsi merupakan salah satu bentuk pencegahan dan pemberantasan korupsi yang dilaksanakan melalui pendidikan, baik formal maupun nonformal. Oleh karena itu, pendidikan antikorupsi memiliki fungsi sebagai berikut.

  • Fungsi kognitifnya adalah untuk menambah pengetahuan dan pemahaman tentang korupsi dan dampaknya yang sangat besar
  • Fungsi afektif adalah membentuk karakter moral dan anti korupsi peserta didik, menanamkan nilai-nilai anti korupsi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Fungsi psikomotor adalah kesadaran moral untuk memerangi berbagai bentuk praktik korupsi yang ada di lingkungan sekitar

Tujuan dilaksanakannya pendidikan antikorupsi di lembaga pendidikan

Pendidikan karakter anti korupsi di lembaga pendidikan berlangsung dalam dua tahap awal, yaitu dengan menentukan ruang dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, kemudian membuat kurikulum yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut.

Baca juga:   Dimensi dan Cara Penerapan Profil Pelajar Pancasila di Tingkat PAUD

Berikut ini adalah tujuan dilaksanakannya pendidikan anti korupsi yang dilakukan oleh lembaga pendidikan:

Pembentukan karakter anti korupsi berdasarkan tahap perkembangan anak

Pembentukan karakter anti korupsi yang dilakukan oleh lembaga pendidikan mengikuti perkembangan usia anak mulai dari PAUD, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Pelaksanaan kurikulum yang dilaksanakan sudah sesuai dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada setiap jenjang pendidikan.

Template kurikulum yang diajarkan disesuaikan dengan tahap perkembangan anak sehingga lebih mudah diterima dan diterapkan.

Menanamkan nilai-nilai anti korupsi pada generasi muda

Ada 9 nilai penting anti korupsi yang diajarkan kepada siswa untuk membantu membentengi diri dari sikap koruptif. Sikap tersebut meliputi kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, kepedulian, kemandirian, disiplin, keadilan, kerja keras dan keberanian.

Bagi lembaga pendidikan, dapat mengajukan permohonan dana untuk melaksanakan program pendidikan anti korupsi di sekolahnya.

Tanamkan pendidikan anti korupsi jangka panjang

Salah satu model pengajaran pendidikan antikorupsi yang dilakukan adalah jangka panjang. Sudah sangat parah kondisi tidak bisa diatasi dalam sehari, dua hari atau setahun, tapi harus dilakukan bertahun-tahun, bahkan bisa seumuran dengan seseorang. Tradisi yang telah mengakar kuat di masyarakat perlu dipahami sejak dini.

Lembaga pendidikan mengawal pendidikan sejak usia dini sampai dengan tingkat doktoral profesor. Maka sangat tepat pendidikan antikorupsi di lembaga pendidikan diajarkan sebagai pembelajaran sepanjang hayat yang harus ditanamkan kepada generasi Indonesia. Tidak hanya anak-anak, tetapi orang tua juga penting untuk mencapai pembelajaran ini.

Contoh pendidikan anti korupsi

Contoh pendidikan anti korupsi adalah sebagai berikut.

  • Jangan menyontek saat ujian
  • Tidak melakukan plagiarisme
  • Jangan tinggalkan tanda tangan kehadiran kuliah
  • Selalu tepat waktu
  • Patuhi semua peraturan yang berlaku
  • melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab
  • Belajar dengan rajin
  • Melihat dan menilai sesuatu secara objektif
  • Jujurlah pada dirimu sendiri
  • Mengakui kesalahan dan bertanggung jawab untuk memperbaikinya
  • Membantu orang yang membutuhkan
  • Jangan minum obat
  • Rendah hati
  • Tidak terlalu bergantung pada orang lain

 

Pentingnya penerapan pendidikan anti korupsi di lembaga pendidikan

Pemerintah melalui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mengkampanyekan pemberantasan korupsi di lembaga pendidikan. Kurikulum pendidikan anti korupsi mulai dikembangkan di sekolah dengan menyesuaikan konsep dan tujuan yang ingin dicapai di tingkat lembaga pendidikan terkait.

Mulai dari sekolah dasar, pelaksanaan pendidikan ini mulai diadakan. Mengapa pendidikan anti korupsi ini harus diajarkan di dunia pendidikan? Berikut beberapa alasannya:

Baca juga:   Mengenal Sekolah Luar Biasa dan Sekolah Inklusi

Budaya korupsi di Indonesia di ujung jurang

Korupsi sebagai budaya kolonial di Indonesia sudah sangat parah. Budaya perilaku konsensual dalam korupsi menjadi tradisi yang sulit diurai. Bahkan penulis tidak lagi menyadari bahwa itu adalah perbuatan terlarang, dosa dan merugikan bagi banyak orang. Korupsi terjadi di semua lapisan kehidupan, termasuk di lembaga pendidikan.

Kondisi di ambang jurang ini berarti bahwa tujuan dari kesepakatan itu diwujudkan dari bawah dan dalam jangka panjang. Lembaga pendidikan sebagai lokomotif pembentukan karakter generasi bangsa harus menjadi wadah pengajaran yang kuat bagi pendidikan antikorupsi.

Lawan korupsi dari lingkungan terdekat

Menerapkan pendidikan anti korupsi di sekolah dan perguruan tinggi sebenarnya merupakan cara untuk mengatasi pola pikir dan sikap dasar yang mengarah pada tindakan korupsi curang.

Dalam proses pembelajaran misalnya, siswa atau mahasiswa yang menyontek saat ujian sebenarnya adalah suap yang terjadi dalam skala kecil. Tidak disiplin saat itu, menerima siswa dengan curang, memanipulasi nilai, reward dan lain sebagainya adalah tindakan korupsi kecil yang ada dalam dunia pendidikan.

Disinilah sikap korupsi bisa muncul, sehingga sebelum generasi muda tumbuh dan menghadapi kehidupan bernegara yang lebih luas, lembaga pendidikan harus terlebih dahulu menanamkan sikap anti korupsi.

Jika Anda sering melakukan suap di sekolah atau kuliah, bagaimana setelah menjadi pejabat? Sehingga menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan untuk menghilangkan budaya negatif tersebut.

Menanam pendidikan karakter yang aplikatif

Lembaga pendidikan adalah suatu wadah pengembangan pendidikan karakter yang aplikatif. Namun kenyataannya sebagian besar siswa masih bersifat hafalan bahan ajar, belum diimplementasikan dalam sebuah implementasi.

Nilai-nilai karakter yang telah dipahami harus dibentuk secara nyata dalam tindakan seseorang, tidak terbatas pada materi pendidikan yang hanya dihafal tanpa ada implementasi yang sebenarnya. Mengajarkan anak untuk tidak korupsi sejak dini harus dilakukan dengan tindakan nyata dan contoh tindakan, tidak lagi melalui teori belajar.

Penting bagi para guru, tenaga pengajar dan pimpinan lembaga pendidikan untuk memahami bahwa pendidikan anak tanpa korupsi harus didahului dengan keteladanan orang tua di lembaga pendidikan terkait.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

(RAW)

Share :

Baca Juga

Kurikulum

Begini Tahapan dan Strategi Implementasi Kurikulum Merdeka

Kesiswaan

Strategi Guru dalam Membentuk Karakter Tanggung Jawab Siswa
mengatasi bullying

Kesiswaan

Pendekatan Solutif untuk Mengatasi Bullying di Sekolah!

Kurikulum

Cara Menyusun Rubrik dalam Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik
Pentingnya Peran Guru dan Orang Tua Dalam Mencegah Kasus Perundungan /unsplash.com

Kesiswaan

Cara Mewujudkan Karakter Disiplin Siswa

Kurikulum

Kurikulum Merdeka SMK sebagai Pusat Keunggulan: Antara Tantangan dan Harapan

Kesiswaan

Produksi Bahan Ajar dalam Penerapan Belajar Mandiri di Sekolah

Kesiswaan

9 Rekomendasi Tempat Wisata Edukasi untuk Anak yang Seru
Mari Gabung e-Guru.idMenjadi guru yang kompeten dan profesional di era digital

Temukan cara baru mengikuti seminar, workshop, pelatihan BERSERTIFIKAT.