Home / Kurikulum

Jumat, 18 Maret 2022 - 04:47 WIB

6 Hal Penting dalam Penerapan Kurikulum Merdeka SMP

Kurikulum Merdeka SMPKurikulum Merdeka adalah jenis kurikulum yang saat ini sedang gencar disebarluaskan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Dalam update terbarunya, Kurikulum Merdeka telah meluncurkan Merdeka Belajar Episode ke-15.

Kurikulum Merdeka juga disebut sebagai Kurikulum Prototipe. Kurikulum ini mengambil slogan Merdeka Belajar. Slogan tersebut diusung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang memiliki makna bahwa pendidikan di era saat ini harus mampu memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi diri mereka dengan dasar mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa yang sesuai dengan Pancasila.

Tidak heran pula mengapa kemudian karakter Pancasila ditonjolkan dalam Kurikulum Merdeka, hal ini karena karakter Pancasila dapat mendorong pemulihan pendidikan setelah terjadinya krisis dan learning loss selama Pandemi Covid-19.

Penerapan Kurikulum Merdeka dapat dimulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA, dan tingkat Pendidikan Tinggi.

Apabila dibandingkan dengan kurikulum pendidikan nasional sebelumnya, terdapat beberapa perbedaan dalam Kurikulum Merdeka yang penting untuk Anda perhatikan. Guna memahami bagaimana struktur dan bentuk pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka khususnya pada jenjang SMP, silakan simak 6 hal penting dalam Kurikulum Merdeka SMP berikut ini!

1.     Bentuk Aktifitas Pembelajaran

Bentuk aktifitas pembelajaran yang berlaku dalam Kurikulum Merdeka jenjang SMP adalah terdiri dari 3 (tiga) kegiatan utama, yakni kegiatan intrakulikuler, projek penguatan profil pelajar Pancasila, dan kegiatan ekstrakulikuler.

Dalam tiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam Kurikulum Merdeka, para peserta didik didorong untuk dapat secara aktif berkontribusi dalam berjalannya pembelajaran. Kontribusi peserta didik yang dituntut adalah dalam hal berpikir kritis, inisiatif, dan mampu menyelesaikan persoalan dalam pembelajaran dengan menggunakan solusi yang efektif serta aplikatif.

2.     Alokasi Jam Pelajaran (JP)

Poin berikutnya adalah berkenaan dengan alokasi jam pelajaran. Dalam struktur Kurikulum Merdeka jam pelajaran disusun secara total dalam satu tahun. Di samping itu, perlu dilengkapi pula saran alokasi jam pelajaran jika ingin dibuat dalam bentuk reguler atau per pekan.

Secara umum, tidak terdapat perubahan total dalam hal jam pelajaran. Hanya saja alokasi waktu untuk tiap mata pelajaran (mapel) dalam Kurikulum Merdeka dibagi menjadi dua kegiatan pembelajaran yakni pembelajaran berbentuk intrakulikuler dan pembelajaran dalam bentuk proyek pelajar Pancasila (sebesar 25%).

Memang dengan pembagian alokasi jam pembelajaran semacam ini, secara sekilas pembelajaran rutin di kelas (bentuk intrakulikuler) seolah berkurang. Padahal sebetulnya tidak ada pengurangan jam pembelajaran dibandingkan kurikulum sebelumnya. Hanya saja sebagian jam pelajaran di Kurikulum Merdeka dialokasikan untuk proyek penguatan profil pelajar Pancasila sehingga terasa seolah berbeda.

Baca juga:   Kurikulum Merdeka dan Model Pembelajaran yang Tepat!

3.     Menghadirkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Seperti yang telah beberapa kali disinggung pada poin-poin sebelumnya, dalam Kurikulum Merdeka hadir bentuk pembelajaran baru yakni pembelajaran berbasis proyek (project based learning). Hal yang perlu Anda perhatikan adalah bahwa projek penguatan profil pelajar Pancasila ini harus dilaksanakan dengan cara menggali isu aktual dan nyata pada lingkungan sekitar. Sehingga peserta didik diajak untuk berpikir kritis dan skeptis mengenai bagaimana cara memecahkan masalah dan menemukan solusi.

Secara lebih lanjut, pelaksanaan proyek penguatan profil pelajar Pancasila harus memperhatikan ketentuan sebagai berikut:

  • Proyek yang dipilih harus dikembangkan dengan berdasarkan tema-tema pilihan yang telah ditetapkan secara nasional oleh pemerintah melalui Kemendikbudristek.
  • Target CP tidak terlalu terikat kepada konten mata pelajaran tertentu dan asesmen lebih bersifat kualitatif dengan menilai karakter dan motivasi belajar peserta didik.
  • Proyek pembelajaran dilakukan secara lebih fleksibel. Artinya bahwa dapat disesuaikan dalam hal jadwal maupun metode yang diterapkan. Disarankan pula untuk lebih banyak melibatkan masyarakat dan lingkungan sekitar ketimbang pembelajaran reguler.
  • Peserta didik adalah pelaksana utama proyek, sementara guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan arahan, pengawasan, serta evaluasi di akhir projek.

4.     Muatan Lokal 

Hal berikutnya adalah mengenai muatan lokal. Pada Kurikulum Merdeka SMP, tiap satuan pendidikan atau pemerintah daerah dapat menambahkan muatan lokal yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan tiap sekolah. Sehingga muatan lokal dalam Kurikulum Merdeka adalah lebih fleksibel.

Terdapat 3 (tiga) pilihan model penerapan muatan lokal yang dapat dilakukan dalam Kurikulum Merdaka, yakni meliputi;

  • Metode Pengintegrasian Muatan Lokal ke dalam Mata Pelajaran Lain

Dalam metode ini, satuan pendidikan dapat menentukan capaian pembelajaran (CP) untuk muatan lokal, kemudian memasukkannya ke dalam mata pelajaran lain. Sebagai contoh, tentang karya sastra puisi diintegrasikan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, produk kerajinan lokal suatu daerah diintegrasikan ke dalam mata pelajaran IPS, dan sebagainya.

  • Metode Pengintegrasian Muatan Lokal ke Tema Proyek Penguatan Profil Pancasila

Dalam metode ini, satuan pendidikan dapat mengintegrasikan muatan lokal ke dalam tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Baca juga:   Siklus Kinerja Guru Berbasis Sasaran Kerja

Untuk metode ini contohnya adalah melakukan projek terkait dengan tema wirausaha dilakukan dengan mengeksplorasi potensi kerajinan lokal atau dapat pula melakukan projek dengan tema perubahan iklim dikaitkan dengan isu-isu lingkungan di wilayah tersebut.

  • Metode Pengembangan Mata Pelajaran Khusus Muatan Lokal

Metode yang satu ini menjadikan muatan lokal bersifat berdiri sendiri sebagai bagian dari program intrakurikuler.

Untuk metode ini, contohnya adalah seperti mata pelajaran bahasa dan budaya daerah, kemaritiman, kepariwisataan, dan sebagainya sesuai dengan potensi masing-masing daerah.

Hal yang perlu diperhatikan dalam membuka mata pelajaran khusus muatan lokal adalah bahwa beban belajarnya tidak boleh melebihi 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun atau 2 (dua) JP per minggu.

5.     Mata Pelajaran Informatika

Kurikulum Merdeka SMP secara khusus mewajibkan mata pelajaran Informatika. Sementara itu, mata pelajaran Prakarya kini menjadi salah satu pilihan mata pelajaran Seni (bersama dengan Seni Rupa, Seni Tari, Seni Musik, dan Seni Teater).

Kewajiban untuk mengambil mata pelajaran Informatika ini didasarkan pada tuntutan agar siswa dapat berpikir secara kritis dan sistematis. Sebab, mata pelajaran Informatika dapat menunjang kompetensi dan keterampilan berpikir yang lebih mendalam.

6.     Kriteria Ketuntasan Hasil Belajar (Penilaian)

Hal berikutnya yang menjadi perbedaan Kurikulum Merdeka dengan kurikulum sebelumnya adalah dalam penetapan kriteria ketuntasan hasil belajar. Apabila pada kurikulum sebelumnya, peserta didik dinyatakan tuntas dalam mata pelajaran tertentu dengan ukuran KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang bersifat kuantitatif, maka saat ini asesmen adalah lebih bersifat formatif.

Analisis capaian belajar para peserta didik diidentifikasi dengan indikator tujuan pembelajaran. Dalam hal ini, Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan lebih kepada para guru untuk dapat menentukan sendiri kriteira ketercapaian tujuan pembelajaran.

Demikianlah penjelasan mengenai 6 hal penting yang perlu untuk Anda ketahui berkenaan dengan penerapan Kurikulum Merdeka SMP. Jika Anda ingin memperoleh informasi lainnya terkait implementasi Kurikulum Merdeka Anda dapat mengaksesnya melalui https://kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id/.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link INI atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

(shd/shd)

Share :

Baca Juga

Kurikulum

Kurikulum 2022, Paradigma Guru Dalam Menerapkan Kurikulum Prototipe

Kurikulum

Cara Penyusunan Program Semester Kurikulum Merdeka

Guru Honorer

Pendaftaran Guru Penggerak Dibuka Kembali, Begini Cara Mendaftarnya
tips membuat best practice

Kesiswaan

4 Kompetensi Ini Sangat Dibutuhkan Pada Abad 21
jenis metode pembelajaran untuk anak SD

Kurikulum

Dimensi dan Cara Penerapan Profil Pelajar Pancasila di Tingkat PAUD
tips membuat best practice

Kurikulum

Cara Menyusun Rubrik dalam Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik

Kurikulum

Penjelasan Lengkap tentang Kurikulum Baru 2022 untuk Pemulihan Pendidikan Pasca Pandemi

Kesiswaan

Akibat PTM Tak Konsisten, Pendidikan Indonesia Mengalami Penurunan Kualitas