Home / Kesiswaan / Kurikulum

Kamis, 11 Agustus 2022 - 10:10 WIB

Pembelajaran Kooperatif : Strategi, Tujuan dan Prinsip

Pembelajaran kooperatif adalah kiat-kiat melaksanakan proses belajar mengajar di kelas setiap hari. Bagi para guru, adanya kiat ini tentunya sangat berguna untuk membantu para siswanya dalam belajar. Teknik ini membantu mengasah keterampilan dasar mereka hingga belajar memecahkan masalah yang terbilang rumit.

Pengertian Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Menurut Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008, pembelajaran kooperatif berasal dari kata kooperatif yang artinya “kerja sama” atau “saling membantu. Sedangkan menurut Wikipedia, cooperative learning adalh istilah umum bagi strategi-strategi pengajaran guna mendidik kerja sama dan interaksi antar pelajar. Strategi ini ditujukan agar tercapainya tujuan pembelajaran yaitu; penerimaan pada keragaman, hasil belajar akademik, serta pengembangan keterampilan sosial.

Jika disimpulkan, cooperative learning ini merupakan model pembelajaran yang di dalamnya membentuk kelompok-kelompok siswa. Kelompok ini umumnya hanya berjumlah 4 hingga 5 orang saja dengan beranggotakan siswa yang heterogen dari keahliannya, jenis kelaminnya, juga rasnya tidak sama.

Anggota kelompok memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas dengan cara bekerja sama. Dengan model pembelajaran ini, satu dan lain siswa akan belajar memahami dan melatih keterampilan sosial. Hal ini sesuai dengan kurikulum 2013 di antaranya, pengetahuan, keterampilan, kompetensi sikap sosial, ean kompetensi selain sikap spiritual.

Model cooperative learning harus dilaksanakan dengan mengutamakan pengelompokan siswa. Anggota kelompok kecil tersebut harus berbeda-beda kemampuannya (Saptono, 2003:32). Dalam pelaksanaannya, perlu diajarkan bagaimana bekerja sama, menghargai dan mengemukakan pendapat, berdiskusi, serta saling melengkapi.

Dari model pembelajaran ini, siswa akan paham mengenai pentingnya bergotong-royong sesuai fitrah manusia sebagai makhluk sosial.

5 Prinsip Cooperative Learning

Dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif, ada 5 prinsip yang bisa Anda pahami di bawah ini:

Ketergantungan

Ketergantungan di sini bersifat positif di mana siswa dalam kelompok saling berhubungan untuk meraih tujuan. Untuk bisa berhasil, mereka harus melaksanakan prinsip saling memerlukan. Masing-masing anggota diberi tugas berbeda agar saling membutuhkan, sehingga mereka saling menopang hingga keberhasilan tercapai.

Akuntabilitas Individual

Setiap anggota kelompok harus bertanggung jawab atas tugasnya karena akan mempengaruhi anggota lain. Upaya satu pelajar akn berpengaruh bagi pelajar lain yang ada di kelompok tersebut. Saat kepentingan berkelompok tercapai, artinya keberhasilan individual dalam upayanya pun berhasil.

Interaksi Promotif

Kolaborasi dalam kelompok menghasilkan kegiatan kognitif dan interpersonal yang dinamis karena masing-masing anggota saling mendukung dalam belajar. Kegiatan tersebut merupakan cara menguraikan masalah, berdiskusi, serta bertukar atau menghubungkan pengetahuan lama dan yang baru. Hal ini akan tercapai bila interaksi promotif antar anggota terbangun dan dijadikan prinsip mencapai keberhasilan.

Baca juga:   Manfaat Pelaksanaan Projek untuk Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Keterampilan   Kolaboratif

Keterampilan kolaboratif adalah kemampuan anggota dalam memahami anggota lain. Selain itu, siswa juga mampu memecahkan masalah, mengobatkan semangat bagi anggota lain, mengambil inisiatif, serta turut senang saat anggota lain berhasil. Siswa juga dapat memberikan kritik dan saran pada gagasan anggota lain.

Dinamika Kelompok

Dalam pembelajaran kooperatif, perlu adanya dinamika kelompok yang merupakan interaksi para anggota kelompok. Dengan dinamika kelompok yang baik, akan terbentuk kerja sama yang saling menguntungkan satu sama lain. Baik dalam mengatasi masalah, menghadirkan suasana demokratis, dan memberikan ruang bagi setiap individu dalam memberi masukan, interaksi, serta peran yang sama di masyarakat.

Contoh dan Cara Penerapan Strategi Cooperative Learning

Untuk dapat menerapkan pembelajaran kooperatif, Anda bisa simak contoh sekaligus caranya di bawah ini!

Student Teams Achievement Division (STAD)

Model pembelajaran kooperatif satu ini menitikberatkan interaksi antar anggota untuk saling menyemangati dan membantu menguasai materi.

Caranya:

  • Bentuk kelompok dengan 4 siswa
  • Guru menyiapkan materi, kemudian memberikan tugas pada kelompok.
  • Anggota yang tahu jawaban menjelaskan pada anggota lain.
  • Guru memberi pertanyaan yang harus dijawab secara individu.
  • Pembahasan pertanyaan
  • Kesimpulan

Jigsaw (Model Tim Ahli)

Model belajar satu ini menitikberatkan tanggung jawab ketuntasan setiap anggota dalam mempelajari teks materi bagiannya.

Caranya:

  • Materi dipecah ke dalam beberapa bagian berbeda dan dibagikan pada masing-masing anggota beserta tugas yang berbeda
  • Buat kelompok baru (kelompok ahli) dari kelompok lain berisikan siswa yang mendapat tugas yang sama.
  • Lakukan diskusi kelompok ahli, kemudian kembali pada kelompoknya untuk menjelaskan materi dan tugas bagiannya yang sudah didiskusikan di kelompok ahli.
  • Pembahasan.
  • Penutup.

Group Investigation

Strategi satu ini mengharuskan siswa memiliki kemampuan komunikasi yang baik, selain itu berkemampuan baik di bidang keterampilan proses dalam kelompok. Setiap anggota akan menyumbang ide yang akan mengasah kemampuan intelektual lebih baik dibandi secara individu.

Caranya:

  • Buat kelompok kecil dan berikan pertanyaan terbuka yang sifatnya analitis.
  • Ajak setiap anggota untuk mengutarakan ide atau jawaban secara bergilir searah jarum jam dengan dengan waktu yang ditentukan.

Think Pair and Share

Berikut ini langkah-langkah melaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair and share yang bisa Anda laksanakan di sekolah:

  • Guru memberikan materi dan siswa akan berdiskusi dengan teman sebelahnya mengenai materi tersebut.
  • Guru menjadi pemimpin saat tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi.
  • Guru mengarahkan obrolan pada pertanyaan yang belum terpecahkan berdasarkan hasil diskusi.
  • Kesimpulan.

Make a Match

Model satu ini merupakan pembelajaran dengan menggunakan kartu-kartu.

Baca juga:   RUU Sisdiknas Merilis Dua Model Sekolah Pendidikan Formal

Caranya:

  • Guru menyiapkan kartu dengan satu sisi berisi soal dan sisi lainnya berupa jawaban dari soal lain.
  • Siswa mendapat kartu tersebut dan mencari jawaban, setelah dapat, dia harus mencari kartu orang lain yang jawabannya sesuai dengan kartunya.
  • Jika jawaban didapat sebelum batas waktu, siswa mendapat poin.
  • Setiap babak baru, kartu dikocok kembali agar siswa mendapat kartu berbeda.

Mencari Pasangan

Model pembelajaran kooperatif satu ini hampir sama dengan make a match, berikut cara-caranya:

  • Siapkan kartu berisi suatu topik atau review dan bagikan pada siswa.
  • Siswa mencari pasangannya, misalkan satu siswa mendapat kartu bertuliskan “Kuala Lumpur”, siswa lain mendapat kartu “Malaysia, maka mereka berpasangan.

Bertukar Pasangan

Berikut langkah-langkah strategi cooperative learning bertukar pasangan:

  • Masing-masing siswa memiliki satu pasangan untuk mengerjakan tugas dari guru.
  • Jika sudah, setiap pasangan akan bertukar pasangan dengan yang lain untuk bertukar informasi.
  • Pemahaman batu hasil bertukar dibagikan pada pasangan semula.

Kepala Bernomor

Berikut cara pembelajaran kooperatif kepala bernomor:

  • Siswa membentuk kelompok yang masing-masing anggota diberi nomor.
  • Masing-masing kelompok diberi tugas dan dikerjakan.
  • Jawaban didapat dengan diskusi dan semua anggota harus tahu jawabannya.
  • Guru menyebutkan nomor, siswa yang menyandang nomor tersebut harus mempresentasikan hasil diskusi.

Dua Tinggal Dua Tamu

Berikut model dua tinggal dua tamu dalam cooperative learning:

  • Buat kelompok dengan 4 anggota untuk berdiskusi.
  • Dua orang akan pergi bertamu ke kelompok lain.
  • Dua yang tinggal akan memberi informasi pada dua tamu yang datang dari kelompok lain.
  • Dua anggota tamu akan kembali untuk memberikan hasil kunjungan dan kelompok membahasnya bersama.

Talking Chips

Model talking chips atau kartu untuk berbicara bisa juga disebut model kancing gemerincing.

Berikut cara menerapkan talking chips:

  • Buat kelompok dengan jumlah siswa 4-6 orang untuk berdiskusi tentang suatu materi.
  • Masing-masing kelompok mendapatkan 4-5 kartu untuk berbincang.
  • Anggota mengambil kartu dan mengemukakan pendapatnya berdasarkan yang tertuang di kartu, kemudian disimpan saat telah selesai.
  • Kegiatan dilakukan sampai seluruh anggota selesai menggunakan kartunya.

Itulah beberapa model pembelajaran kooperatif disertai cara pelaksanaannya. Belajar menjadi lebih efektif dan siswa menjadi lebih memahami satu sama lain dan kerja sama lebih terasah.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

(RAW)

Share :

Baca Juga

Kesiswaan

Cara Menciptakan Motivasi Belajar Peserta Didik

Kurikulum

Fitur Platform Merdeka Mengajar dan Cara Menggunakannya
7 Gaya Belajar Siswa yang Wajib Guru Ketahui

Kesiswaan

7 Gaya Belajar Siswa yang Wajib Guru Ketahui
Penilaian Akhir

Kurikulum

Masalah Pendidikan Di Indonesia 2022

Kesiswaan

Pendidikan Usia Dini Dalam Perspektif Islam

Kenaikan Pangkat

Jenis-jenis Kecerdasan Yang Harus Kita Tahu
jenis metode pembelajaran untuk anak SD

Kurikulum

Dimensi dan Cara Penerapan Profil Pelajar Pancasila di Tingkat PAUD
cara penilaian kurikulum merdeka

Kurikulum

Cara Penilaian Kurikulum Merdeka yang Perlu Diketahui