Home / Kurikulum

Jumat, 1 Juli 2022 - 19:32 WIB

Cara Mendesain Projek Tahap Awal untuk Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Cara Mendesain Projek Awal tahun ajaran baru akan segera dimulai. Tentu hal ini akan membuat hampir seluruh sekolah di negeri perlu untuk segera bersiap – siap dalam menyusun program kerja termasuk penerapan projek Kurikulum Merdeka di setiap tingkatan satuan pendidikan.

Idealnya, di semua tingkatan baik PAUD, SD, SMP dan SMA/K akan menyusun hadirnya projek penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan format yang sama sesuai panduan.

Hanya saja, beberapa jenjang tertentu memerlukan proses tambahan dan tentu saja akan disesuaikan dengan tingkatan serta level pengetahuan yang dimiliki. Adapun tahapan yang perlu dikaji yakni sebagai berikut :

1.    Tahapan Mendesain Waktu

Tahap pertama dalam penyusunannya nanti akan bergantung dengan tema projek per tingkat satuan pendidikan.

Kemudian, satuan pendidikan tersebut akan menyusun durasi dimana pengerjana projek dapat dilakukan pada range waktu minimal 2 minggu dan maksimal 3 bulan.

Lamanya pengerjaan projek akan bergantung pada tujuan serta aspek kedalaman dari tema yang diambil.

Baca juga:   Prinsip Projek untuk Menguatkan Profil Pelajar Pancasila

Misal, jika tiap satuan pendidikan memiliki orientasi projek agar dapat memberikan banyak dampak positif, maka durasi pelaksanaannya akan berlangsung lama.

Sedangkan di luar masa pengerjaan projek, satuan pendidikan perlu menyusun kembali jadwal pembelajaran sebagaimana jadwal umum.

Hal ini berdasar landasan pada keputusan dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi bangsa RI di Nomor 162/M/2021 terkait program Sekolah Penggerak.

Kebijakan tersebut mengatur adanya regulasi tentang ketentuan total waktu pelaksanaan projek berkisar dari 20 – 30% per peserta didik setiap tahunnya.

Misal di tingkat pendidikan SD I – V akan mendapat waktu pelaksanaan dengan total 252 JP untuk projeknya.

Kemudian, di jenjang SD VI, satuan pendidikan akan mendapat alokasi waktu pelaksanaan projek sebanyak 224 JP. Kemudian, di tingkatan SMP VII – VIII, tiap satuan pendidikan akan mendapat alokasi waktu sebesar 360 JP.

Di SMP IX, satuan pendidikan akan mendapat alokasi waktu pengerjaan projek sebanyak 320 JP. Kemudian di tingkatan SMA X, peserta didik akan mendapat alokasi waktu sebanyak 486 JP. Lalu, di tingkatan SMA XI peserta didik mendapat alokasi pengerjaan projek sebanyak 216 JP. Di bagian akhir, yakni tingkatan SMA XII, peserta didik akan mendapat alokasi waktu sebanyak 192 JP.

Baca juga:   6 Istilah-Istilah Baru Dan Populer Dalam Kurikulum Merdeka yang Tidak Ada di Kurikulum 2013

2.    Tahapan Penentuan Dimensi

Cara mendesain projek tahapan lainnya yakni tahapan untuk menentukan dimensi pada profil pelajar pancasila. Maksud dari tahapan ini yakni menjadikan projek yang diselenggarakan agar sesuai dengan tingkatan dan level dimensi pada Profil Pelajar Pancasila.

Di awal, hendaknya para kepala satuan pendidikan tidak terlalu memperbanyak dimensi yang ada sebab masih dalam tahapan percobaan dan pengujian.

Nah demikian ulasan mengenai tahapan awal dalam cara mendesain projek. Setelah mengkajinya, sebaiknya anda juga membaca referensi terkait tahapan berikutnya.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

(rhm/shd)

Share :

Baca Juga

Kesiswaan

Bagaimana Cara Mengembangkan Potensi Diri Siswa
Mulai Juli 2022, Pancasila Menjadi Mapel Wajib di Sekolah

Kurikulum

Keunggulan Kurikulum 2022 Dіbаndіng Kurіkulum Sebelumnya

Kurikulum

Kurikulum 2022, Paradigma Guru Dalam Menerapkan Kurikulum Prototipe

Kurikulum

Guru yang Belum Paham Kurikulum Merdeka

Kesiswaan

Ingin meningkatkan softskill guru? simak ulasan berikut ini
ilustrasi seleksi PPPK

Kurikulum

Apa yang Dimaksud Kurikulum Merdeka tentang Literasi, Numerasi dan Profil Pelajar Pancasila ?

Kesiswaan

Menjadi guru berkompeten melalui kompetensi sosial emosional

Kurikulum

Personalized Learning dan Relevansinya dengan Merdeka Belajar