Home / Kesiswaan

Kamis, 30 Juni 2022 - 15:18 WIB

Penyebab Peserta Didik Tidak Percaya Diri pasca Pandemi

Peserta Didik Kehidupan pasca pandemi hari ini telah memberikan pengaruh yang besar bahkan sampai merangsek masuk dalam dunia pendidikan.

Salah satu permasalahan yang patut segera diselesaikan yakni menjamurnya peserta didik yang terus merasa insecure bahkan sampai ada yang menghentikan kehidupannya.

Ketidakmampuan yang dimiliki peserta didik tersebut malah menjadi motivasi dalam diri untuk menghilang dan tidak lagi berinteraksi sosial dengan teman sesamanya.

Sebagai guru, tentu anda memiliki andil besar untuk menghadirkan motivasi dan menginspirasi para peserta didik yang sering merasa insecure agar tidak sampai berpengaruh dalam diri mereka. Salah satu usaha yang bisa dilakukan yakni dengan mengetahui faktor penyebab serta cara mengatasinya.

Sebelum membahas cara mengatasinya, alangkah lebih baik bila mengetahui terlebih dahulu faktor yang menjadikan rasa ketidakpercayaan dalam diri meningkat. Faktor tersebut terbagi dalam dua tipe. Yakni tipe internal dan eksternal.

1.    Faktor Internal

Faktor pertama yang perlu digali oleh guru yakni faktor internal. Misalnya, karena segi kondisi diri. DI zaman serba canggih sekarang, bullying maupun hinaan mengenai physical appearance mulai bermunculan dan santer untuk disebarkan.

Baca juga:   Pendekatan Solutif untuk Mengatasi Bullying di Sekolah!

Walaupun sudah ada kebijakan UU ITE, tetap saja banyak netizen dan pengguna sosial media yang ngawur dan malah suka menyampaikan hujatan terkait kondisi diri seseorang. Ternyata, fenomena seperti ini malah diperparah.

Walaupun bukan hal baru, namun masa pandemi cukup menyuburkan budaya hate speech antar sesama teman sebab tidak saling bertatao muka. Akibatnya, hinaan verbal terkadang dianggap sebagai guyonan tanpa memahami bahwa hal tersebut bisa menyinggung temannya.

Selain itu, kondisi intelektualitas yang kurang memadai kerap menjadi target bullying dan hinaan. Masih banyak peserta didik yang belum memahami masalah konsep kecerdasan majemuk.

Sehingga merasa bahwa kalau ada teman yang tak bisa meraih target akademik bahkan sering mendapat nilai jelek, maka hal tersebut diartikan bahwa temannya terkategorikan bodoh.

Sayang sekali bukan bila pemahamannya menjadi demikian? Hal ini juga semakin diperparah dengan kedatangan sosial media yang seringkali dijadikan wadah untuk mencurahkan segala isi hati dan poin negatif dari temannya. Kondisi yang semacam ini memiliki potensi besar untuk menyuburkan insekuritas dalam diri.

Baca juga:   Tips Menjadi Guru BK Idaman Siswa

2.    Faktor Eksternal

Faktor lainnya yakni datang dari lingkungan teman – teman yang sudah mulai menggunakan fisik maupun ucapan hate speech. Bisa juga dari lingkungan masyarakat juga. Sehingga fenomena demikian malah memperparah rasa insekuritas dalam diri.

Padahal, semakin tinggi insekuritasnya, semakin jatuh pula perasaaanya hingga merasa bahwa kehidupan baginya sudah tak berguna. Hal ini bisa saja memicu angka kematian yang lebih tinggi.

Nah demikian ulasan mengenai faktor peserta didik yang menyebabkan tidak percaya diri alias insecure.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

(rhm/shd)

Share :

Baca Juga

peran apresiasi guru terhadap antusias belajar

Kesiswaan

LPDP 2022 di Depan Mata : Apa Saja Persiapannya ?

Kesiswaan

Ini Dia Tugas Perkembangan Siswa Sekolah Dasar yang Perlu Guru Ketahui

Kesiswaan

Penting! Berikut Administrasi Wali Kelas yang Wajib Dipenuhi
Model Pembelajaran Inkuiri

Guru Honorer

Khusus guru, ubah akun menjadi Canva pro dengan tanpa biaya

Karya Inovatif

Guru Wajib Paham Gaya Belajar Siswa

Kesiswaan

Cara Mendapatkan Beasiswa untuk Siswa Disabilitas (ADiK)

Guru Honorer

Pentingnya Pembelajaran Social Emotional Learning (SEL) bagi Anak

Kesiswaan

8 Hukuman yang Mendidik bagi siswa yang Nakal di Sekolah