Home / Kesiswaan / Kurikulum

Selasa, 16 Agustus 2022 - 19:25 WIB

Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Mengembangan Potensi Siswa

Pembelajaran berdiferensiasi (PB) bukanlah hal yang baru di dalam dunia pendidikan. Pembelajaran berdiferensiasi bertujuan untuk memaksimalkan dan mengembangkan potensi siswa. Pembelajaran berdiferensiasiuntuk mengembangkan potensi siswa dilakukan sebagai kepedulian terhadap siswa dalam memperhatikan kebutuhan dan kekuatan siswa.

Pembelajaran berdiferensiasi yaitu proses siklus mencari tahu tentang siswa dan juga merespon belajar mereka berdasarkan perbedaan. Jika guru selalu belajar untuk memperhatikan keragaman siswa, maka pembelajaran profesional, efektif, dan efisien akan terwujud dengan mudah.

Dengan memahami siswa secara terus menerus, bisa membangun kesadaran tentang kelemahan dan kekuatan siswa, menilai kesiapan, melakukan pengamatan, preferensi belajar, dan minat siswa. Memang sudah seharusnya harus sinkron dengan menggunakan semua preferensi tentang bagaimana melakukan demonstrasi preferensi belajarnya seperti produk, isi, dan lingkungan belajar siswa.

Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah penyesuaian terhadap preferensi belajar, minat, dan kesiapan siswa untuk meningkatkan hasil belajar. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah pembelajaran yang indivual.

Pembelajaran ini cenderung kepada pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar dan kekuatan siswa menggunakan strategi pembelajaran yang independen. Ketika guru memberikan respon tentang kebutuhan belajar siswa, itu artinya guru mendiferensiasikan pembelajaran dengan memperluas, menambah, dan menyesuaikan waktu. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

Pembelajaran berdiferensiasi untuk mengembangkan potensi siswa pada hakikatnya yaitu pembelajaran yang memandang siswa itu dinamis dan berbeda. Oleh karena itu, sekolah harus mempunyai perencanaan tentang pembelajaran berdiferensiasi, yaitu:

  1. Melakukan pengkajian kurikulum saat ini yang sesuai dengan kelemahan dan kekuatan dari siswa.
  2. Melakukan perancangan, perencanaan, dan strategi sekolah yang sesuai dengan kurikulum serta metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan siswa.
  3. Menjelaskan bentuk dukungan dari guru dalam pemenuhan kebutuhan siswa.
  4. Melakukan pengkajian dan penilaian terhadap pencapaian rencana sekolah secara berkesinambungan.

Tujuan Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi untuk mengembangkan potensi siswa bertujuan untuk:

Membantu siswa dalam proses belajarnya

Guru dapat meningkatkan kesadaran terhadap kemampuan siswa. Sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai oleh semua siswa.

Meningkatkan hasil belajar dan motivasi dari siswa

Tujuan pembelajaran ini agar siswa bisa mendapatkan hasil belajar yang sesuai dengan tingkat kesulitan materi yang diberikan oleh guru. Jika siswa belajar sesuai dengan kemampuan mereka, maka motivasi belajarnya akan semakin meningkat.

Menjalin hubungan keharmonisan antara guru dengan siswa

Pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan relasi yang kuat antara guru dengan siswa, sehingga siswa menjadi semangat dalam belajar.

Membantu siswa agar mandiri

Jika siswa diberikan metode pembelajaran secara mandiri atau belajar secara mandiri, maka siswa nantinya akan terbiasa dan bisa menghargai sebuah perbedaan atau keberagaman.

Baca juga:   Akibat PTM Tak Konsisten, Pendidikan Indonesia Mengalami Penurunan Kualitas

Meningkatkan kepuasan guru

Seorang guru yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas, maka guru tersebut akan merasa tertantang untuk mengembangkan potensi dan kemampuan mengajarnya. Sehingga guru akan semakin kreatif.

Komponen Pembelajaran Berdiferensiasi

Ada empat komponen pembelajaran berdiferensiasi untuk mengembangkan potensi siswa,  yaitu terdiri dari isi, proses, produk, dan lingkungan belajar. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Isi

Isi meliputi apa yang dipelajari oleh siswa. Selain itu, isi juga berhubungan dengan kurikulum dan juga materi pembelajaran. Dalam aspek ini, guru melakukan modifikasi kurikulum dan materi pembelajaran mengikuti gaya belajar siswa. Isi dari kurikulum disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi siswa.

Umumnya, Guru tidak dapat melakukan kontrol terhadap isi kurikulum yang spesifik (yang tidak bisa dipahami oleh semua anak) mengikuti gaya belajar siswa dan menyesuaikan dengan materi pembelajaran.

Proses

Proses yaitu bagaimana cara siswa mengolah ide dan informasi. Dalam aspek ini, bagaimana cara siswa melakukan interaksi dengan materi dan bagaimana interaksi tersebut, menjadi bagian penting yang menentukan pilihan siswa dalam belajar.

Dengan banyaknya perbedaan pilihan dan gaya belajar siswa, maka kelas harus bisa melakukan modifikasi sedemikian rupa agar kebutuhan siswa yang berbeda bisa diakomodir dengan baik.

Gregory & Chapman (2002) menyebutkan bahwa proses pembelajaran yang dimodifikasi yaitu:

  1. Mengaktifkan pembelajaran

Aktivitas belajar berfokus pada materi yang disampaikan atau dipelajari, menghubungkan materi yang belum dikuasai, memberi kesempatan kepada siswa untuk mencari tahu mengapa materi yang dipelajari itu penting, dan menjelaskan apa yang dilakukan siswa setelah selesai belajar.

  1. Kegiatan belajar

Kegiatan ini melibatkan proses pembelajaran yang sebenarnya, seperti latihan, demonstrasi, pemodelan, atau permainan pendidikan.

  1. Kegiatan pengelompokkan

Kegiatan belajar siswa secara kelompok atau individu harus direncanakan dengan baik, sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Produk

Produk artinya bagaimana semua siswa bisa menunjukkan apa yang telah mereka pelajari. Produk pembelajaran memungkinkan guru untuk memberikan penilaian terhadap materi yang telah siswa kuasai dan memberikan materi selanjutnya. Gaya belajar siswa juga menjadi penentu hasil belajar seperti yang guru tunjukkan.

Lingkungan Belajar

Lingkungan belajar artinya bagaimana cara siswa merasa dan bekerja dalam pembelajaran. Selain kondisi fisik seperti susunan meja di kelas atau keadaan cuaca, kondisi emosional siswa juga akan berpengaruh pada proses pembelajaran.

Prinsip–Prinsip Pembelajaran Berdiferensiasi

Menurut Tomlinson and Moon (2013) prinsip dasar pembelajaran berdiferensiasi untuk mengembangkan potensi siswa ada lima, yaitu:

Baca juga:   Pembelajaran Berdiferensiasi : Pengertian, Karakteristik dan Strategi Pembelajaran

Lingkungan Belajar

Lingkungan belajar meliputi kelas dan lingkungan fisik sekolah dimana siswa menghabiskan waktu dalam belajar. Iklim belajar merujuk pada kondisi yang siswa rasakan ketika belajar, relasi, dan interaksi dengan siswa lain ataupun gurunya.

Dalam proses pembelajaran, guru harus bisa memberikan respon kepada siswa dengan minat, kesiapan, dan profil belajar siswa. Agar kebutuhan belajar mereka bisa terpenuhi.

Kurikulum yang Berkualitas

Pada kurikulum yang berkualitas tentu harus ada tujuan yang jelas, sehingga guru bisa mengetahui tujuan akhir dari pembelajaran. Selain itum fokus guru dalam mengajar yaitu pada pengertian siswa, bukan hanya pada materi yang mereka hafalkan. Karena hal terpenting dalam proses pembelajaran yaitu pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, sehingga mudah untuk mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Asesmen berkelanjutan

Asesmen berkelanjutan yaitu guru secara terus menerus melakukan formatif asesmen dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini bertujuan agar bisa memperbaiki pengajarannya dan juga mengetahui apakah siswa sudah memahami materi pelajaran yang dibahas.

Jadi, asesmen formatif ini tidak diberikan nilai berupa angka, melainkan hanya sebagai diagnostik tes atau mengetahui masalah yang dihadapi oleh siswa sehingga sulit mengerti, apa yang belum mereka mengerti, dan apa yang bisa dilakukan oleh guru untuk membantu siswa.

Pengajaran yang Responsif

Guru bisa mengetahui kekurangannya dalam membimbing siswa untuk memahami isi pelajaran lewat asesmen akhir. Untuk itu, guru bisa melakukan modifikasi rencana pembelajaran yang sudah dibuat dengan situasi dan kondisi lapangan pada saat itu sesuai dengan hasil asesmen akhir sebelumnya.

Karena pengajaran lebih penting dari kurikulum sekolah, maka guru harus bisa memberikan respon terhadap hasil pembelajaran di kelas. Respon tersebut menyesuaikan dengan pelajaran berikutnya sesuai dengan minat, kesiapan, dan profil belajar siswa yang bisa guru dapatkan dari asesmen di akhir pelajaran.

Kepemimpinan dan Rutinitas di Kelas

Seorang guru harus bisa mengatur kelasnya dengan baik. Kepemimpinan guru yaitu bagaimana guru bisa menjadi pemimpin bagi siswa agar bisa mengikuti pembelajaran dengan baik dan juga mematuhi peraturan yang ditetapkan.

Rutinitas yang ada di kelas, mengacu kepada keterampilan guru dalam melakukan pengelolaan atau mengatur kelas dengan baik lewat prosedur dan rutinitas di kelas yang dijalankan oleh siswa setiap hari. Sehingga pembelajaran bisa berjalan dengan efektif dan efisien.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

(RAW)

Share :

Baca Juga

Kurikulum

Panduan Kurikulum Merdeka untuk Pemulihan Pendidikan Nasional

Kurikulum

Pendidikan Inklusif : Pengertian, Tujuan dan Keuntungan

Kenaikan Pangkat

Bingung Mau Ice breaking Apa? Yuk, Simak Beberapa Contoh Ice breaking yang Bisa Dilakukan oleh Guru

Kesiswaan

Cara Meningkatkan Kecerdasan Peserta Didik

Kurikulum

9 Cara Mengajarkan Toleransi pada Peserta Didik

Kesiswaan

Yuk Pahami Dampak Positif dan Dampak Negatif Media Sosial

Kesiswaan

Kenali Ciri-Ciri Kecemasan Sosial Pada Siswa

Guru Honorer

Pendaftaran Guru Penggerak Dibuka Kembali, Begini Cara Mendaftarnya